Kesetaraan Gender? Women Empowering?

Baru aja, baruuuu aja gue selesai baca postingannya Reef Meizer tentang keperempuanan yang bikin gue akhirnya terpelatuk untuk bikin postingan ini. Yang mau baca silakan aja ya.

Kalo kita berada di lingkungan yang penuh dengan istilah dan label, pasti kita bilang RM ini laki-laki feminis. Haaa, apa itu? Please jangan tanya gue, tanya Google aja yak, karena walopun gue ngerti maksudnya tapi gue gak pandai menjelaskan hal ini πŸ˜† Pastinya dari postingan ini (dan beberapa postingan publik sebelumnya) RM tergolong laki-laki yang peduli dengan isu-isu keperempuanan.

Ketika masih bocah dan polos pada saat itu bisa dibilang gue naif, ya. Sekitar masa TK, SD, SMP, dan SMA, lah. Hidup bersama orang tua yang semaksimal mungkin menjaga gue dan memberikan segala kasih sayang dan fasilitas untuk gue nikmati bikin gue gak tau apa yang terjadi di dunia luar yang gak pernah gue bayangkan sebelumnya. Waktu dulu gue gak tau ada perempuan yang hidupnya susah sampai gue ketemu temen-temen dari komunitas childfree.

I mean, gue tau ada yang namanya korban perkosaan. Gue tahu banyak korban cat calling. Gue juga tau banyak korban kekerasan dalam rumah tangga, bahkan gue pernah nonton film dokumenter mengenai pernikahan dini dan jual-beli anak di daerah terpencil di Indonesia. Dan kebanyakan korbannya adalah perempuan dari beragam usia.

Gue tahu, tapi gue gak peduli.

Simply karena pada saat itu semua tampak JAUH dari jangkauan gue. Reaksi gue ketika itu cuma bisa bilang, “kasihan ya mereka.” Gue gatau kasarnya permainan sistem. Gue gatau betapa jahatnya kekuasaan dalam penggunaan untuk hal-hal yang jahat (atau tidak ideal). Gue gatau gimana rasanya ada di posisi mereka karena dari awal gue tahunya mereka jauh, baik secara fisik apalagi secara batin. Di lingkungan terdekat gue pun, setau gue, gada yang jadi korban.

Dalam proses tumbuh-kembang gue, gue lebih banyak dipaparkan bacaan dan tontonan perempuan kuat. Tokoh Disney yang gue kagumi adalah cewek-cewek tomboy pemberani yang gak takut menghadapi tantangan apapun: Mulan dan Pocahontas. Narasi perempuan lemah, menye-menye tak berdaya gada di pikiran gue. Sempet nge-fans juga sama Ariel the Mermaid tapi gak separah mereka berdua itu, bahkan waktu lagi booming-nya Lilo and Stitch gue gak ikutan nonton karena gak demen sampe sekarang. Masa remaja gue juga diisi dengan langganan majalah cewek semacam Gadis, Kawanku. Pas nungguin nyokap nyalon majalah bacaan buat nunggu kebanyakan Kartini dan masa kuliah gue lebih banyak diisi bacaan majalah Cita Cinta. Isinya gak jauh-jauh dari kegiatan di sekolah dan di kampus, bagaimana mengejar karir dan beasiswa, perempuan-perempuan inspiratif yang masih sempet mengurus keluarga, bahkan perempuan-perempuan pengisi tahta kerajaan yang banyak berkontribusi pada masyarakat. Tentu saja yang namanya majalah ada artikel komersilnya seperti fashion & beauty dan cinta-cintaan. Gue baca cuma buat sekedar tahu.

Didikan dari ortu gue, kalo ada orang asing yang mendekat ke gue mau ngapain harus pasang tameng, alarm otomatis nyala, dan musti curiga. Dengan latar belakang seperti ini tentu saja gue kaget ketika ada temen yang cerita kenapa dia bisa jadi korban perkosaan. Di otak gue pada saat itu malah nyalahin, “Ya lu harusnya ngelawan donk! Masa’ diem aja!” Ada juga cerita tentang kekerasan rumah tangga, gue malah misuh-misuh dalam hati, “Lempar balik tu piring ke muka laki lo! Masa’ gitu aja kalah” Gue juga sebel banget pas tau ada temen kuliah yang nyuciin kolor pacarnya seember-ember!!! NYUCIIN KOLOR, I tell you once again!!! Aslik gue emosi banget parah sumpahhh lu dimanfaatin itu buat jadi babuuuu. Gue langsung bilang sama dia, “Lu jangan mau dijadiin babu! Jangan mau dikerjain ma laki!” Dan kepala gue langsung ditoyor sama pacar (sekarang mantan) gue saat itu juga. Gue sih bodo amat.

Semakin ke belakang gue semakin belajar bahwa sebenernya perempuan bisa kok setara dengan laki-laki, asalkan yang laki-laki juga diedukasi. Duh apalagi era modern ini ya. Dulu gue sampe berantem sama emak-emak cuma gara-gara urusan beranak padahal yang laki juga perlu dikasihtau beranak gak sekadar crot doank. Yang laki harus paham kalo perempuan bisa nyari duit kayak laki, berarti laki juga bisa ngerjain kerjaan perempuan seperti beberes rumah. Pada akhirnya aktivitas apapun tidak melibatkan gender sama sekali. Selama lo sanggup, selama lo bisa, kenapa gak dikerjain, wahai para lelaki? Bokap gue urusan masak numero uno tapi urusan nyikat kamar mandi nyokap gue lah yang juara. Adek gue yang laki jago baking, kuenya enak-enak, tapi urusan nyapu-ngepel gue lebih bersih. Si bungsu urusannya nunggu titah kita-kita aja πŸ˜† Kerjasama aja. Kalau perempuan inisiatif untuk bekerja, misalnya, kenapa lelaki gak inisiatif untuk bersih-bersih rumah? Kalau perempuan punya pencapaian yang baik dalam bidangnya, kenapa yang laki gak nyusul punya pencapaian pribadi juga?

Kalau hidup lu hanya fokus melihat kesusahan perempuan kapan lu mau senang-senangnya, wahai lelaki?

Perempuan layak bahagia apapun pilihan hidupnya. Perempuan berhak memiliki kesetaraan yang sama dengan laki-laki apapun bentuk kesetaraannya.

Just my two cents.

One thought on “Kesetaraan Gender? Women Empowering?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s