High Risk, High Return

Judulnya bahasa investasi banget, yaaa.. Well, emang mau ngebahas masalah investasi sih, hihihi. Sebelum membahas teknisnya, gue cerita latar belakang dulu ya kenapa gue bisa investasi dan dapet info darimana. This will be quite long post so bear with me, please πŸ™‚

Sebelum tahun 2015 gue gatau sama sekali investasi itu apaan.. Jangankan fungsinya, wujudnya aja gue gatau πŸ˜› Cuman kebetulan tahun 2015 awal itu gue udah kerja di salah satu tempat yang mana bos gue orang Perancis. Follower lama gue pasti tau, follower baru silakan ubek-ubek sendiri ya hahaha lagi males nge-link. Di kantor gue ini, gaji gue kan rada bagusan, gue pikir-pikir daripada sayang gue abisin mulu enaknya diapain yaaa.. Kalo nabung konvensional di bank ngerasa rugi juga karena bayar admin sekitar Rp10.000,- tiap bulan. Kaliin aja tuh setahun berapa *medit* wkakaka.

Di tahun yang sama gue mainan AskFM, social media yang berfungsi sebagai portal tanya-jawab so pasti ada interaksi dua arah. Ada juga portal lain yaitu Quora, bedanya AskFM itu versi gaulnya tapi Quora versi seriusnya. Di AskFM ada fitur ‘following’s likes,’ maksudnya orang yang gue follow akan menampilkan pertanyaan orang lain yang jawabannya dia like. Ngerti gak maksudnya? Main AskFM makanya πŸ˜›

Di AskFM sendiri gue follow beberapa orang yang gue tau/kenal dong pastinya, di antaranya ada MikaelHS, Lex De Praxis, dan Kei Savourie. Gue lupa siapa yang nge-like jawabannya om Henry Manampiring mengenai investasi. Gue baca-baca timeline-nya, wah seru. Isinya berbobot dan sesuai kebutuhan gue. Gue followΒ lah. Dan mengikuti fungsi fitur yang tadi, likes-nya om Henry pun menampilkan jawaban-jawaban ciamik dari Tirta Romeo Gadungan mengenai investasi. Ada juga jawaban-jawaban keren dari Selphie, kalo dia ahli di bidang properti. Gue follow mereka juga akhirnya~ Tapi sekarang akun om Henry gak seaktif dulu ya gaes, sibuk ngurus anak doi. Tadi pagi gue cek akunnya Tirta pun udah disabled juga. Cuman akunnya Selphie yang masih aktif.

Berhubung gue dapet informasi berguna nan bermanfaat ini secara gratis (bermodalkan kuota internet doank yang dibaca di sela-sela jam kantor HAHAH) maka gue juga mau membagikan ilmu ini secara gratis. Disclaimer dulu yak: I’m not an expert, gue berinvestasi menggunakan nalar manusia pada umumnya dan sedikit menggunakan insting jadi kalo ada yang agak meleset atau kurang tepat dikit harap dimaklumi shay~ πŸ˜€

1. Ketahui tujuanmu berinvestasiΒ 

Karena investasi mirip-mirip seperti menabung (yang menguntungkan) maka kita pun musti tahu apa tujuan kita berinvestasi. Kan prioritas hidup orang beda-beda: ada yang mau nikah cepet, ada yang mau punya rumah, ada yang mau lanjut sekolah, yang udah berkeluarga pengen punya dana pendidikan buat anak, dan lain-lain. Setelah menentukan tujuan, kita bisa jadi tahu jenis investasi apa yang sejalan dengan visi-misi kita beserta tenggat waktunya.

Baca juga: Investasi Reksadana untuk Orang Muda

2. Beragam jenis produk investasi, return (keuntungan), deadline (tenggat waktu), dan untung-ruginya.Β 

Waktu pertama kali belajar tentang investasi, gue langsung dihadapkan dengan banyak jenis produknya sehingga gue bisa langsung menentukan pilihan. Bayangin aja kalo nemunya satu-satu trus nyesel karena gak cocok dan nemuin yang lain yang lebih cocok haha, buang-buang waktu banget.

Jenis investasi sejauh ini yang gue tau, with no particular order: emas batangan, perhiasan, tabungan emas, properti, indeks saham, deposito, reksadana, obligasi, forex/valas, bitcoin. Gue gak bakalan bahas bitcoin ya, selain karena gak mencari info banyak, dari awal gue gak tertarik karena beritanya simpang siur. Well, personal preferences.

Baca juga: Asuransi bukanlah Investasi

a. Logam Mulia. Sifat: low risk, low return. Tenggat waktu ideal: short term 1-3 tahun (perhiasan dan tabungan emas), long term 10-20 tahun (emas batangan). Ini cocok buat pemula karena mudah dipelajari dan gak perlu rajin-rajin banget memantau pasar. Yang termasuk dalam bagian logam mulia adalah emas batangan, perhiasan, dan tabungan emas, ya. Gue masih pake ini, tepatnya di tabungan emas. Enaknya berinvestasi disini adalah liquid money, jadi kapan pun lo butuh uang banyak atau uang cepet, tinggal ditukerin aja ke merchant tertentu. Merchant yang gue pake adalah Pegadaian. Dulu gue taunya cuman itu yang menyediakan layanan tabungan emas, semakin kesini ada BukaEmas by BukaLapak (makasih kak Irvan atas infonya!), dan IndoGold yang gue ketahui pas dateng ke acaranya Tech In Asia. Keuntungan yang kedua adalah, karena ini emas, (untuk sekarang ini) semua orang (masih) butuh. Jadi seandainya lo jual ke orang lain secara tertutup (gak melalui merchant), juga bisa. Lo patok harga sendiri dan ambil keuntungan dari sana.

Gak enaknya berinvestasi disini adalah, return-nya kecil. Well, sebenernya gak rugi-rugi banget karena return kecil = nilai stabil. Cuman karena adek gue kuliah di jurusan Hubungan Internasional, dia kadang lebih tau urusan politik Indonesia dan/atau luar negeri, jadi gue masih tanya dia untuk urusan per-emas-an ini bagaimana. Doi bilang karena Indonesia lagi adem-ayem (di luar demo berjilid itu), ya memang masih stabil. Pun kalo nilainya turun, gak terjun bebas. Masih bisa diandalkan. Kerugian kedua walaupun emas batangan sifatnya jangka panjang (long term), suatu saat orang gak akan butuh. Misalnya pas perang, orang gak butuh emas tapi oil & gas untuk beraktivitas. Dari segi kebutuhan pangan juga gitu. Kalo menurut gue ini tergantung tren aja, mendunia pun sempet kan nilai oil & gas jatuh banget?

Baca juga: Investasi di tas mewah, seriously?!

Kalo sesuai urutan, paling menguntungkan sampai paling merugikan: Emas batangan > Tabungan Emas > Perhiasan. Kenapa begitu? Perhiasan itu isinya udah campuran, gak 100% emas jadi kalo lo mau tukar nilai emasnya aja ya gak bakal 100% juga yang lo dapet. Kedua, karena perhiasan ada ‘art value‘-nya jadi ada pemotongan nilai seni sebagai komisi artist-nya. Kalo udah ngomongin artist, udah bukan ranah gue lagi. Itung-itungannya antara merchant dan artist itu.

b. Properti. Sifat: medium risk, medium return. Tenggat waktu ideal: Short term 1-3 tahun (apartment), middle term 5-10 tahun (rumah), long term 10-20 tahun (tanah). Yang termasuk properti disini merupakan rumah, tanah, apartment. Urutan dari yang paling menguntungkan sampai paling merugikan: Tanah > Rumah > Apartment. Enaknya tanah adalah lo bisa bangun apa aja disitu, mulai dari rumah, kios, langsung ruko, dll. Jadi lo yang atur bentuk bangunannya sesuai keinginan/kebutuhan lo di atas tanah yang lo miliki sendiri. Tanah gada bubble-nya, ya (akan gue jelaskan kemudian).

Rumah, dalam artian landed house, fungsinya banyak. Lo bisa atur untuk punya ruang kerja sendiri degan suasana nyaman walaupun ukurannya kecil. Hari gini siapa yang gak pengen kerja dari rumah?! Bisa bangun siang, pake piyama doank πŸ˜† Yang penting target selesai. Rumah juga bisa kita atur untuk punya ruang tidur tambahan yang nantinya kita sewakan. Bisa berupa kost-kostan atau masukkin aja di AirBnB atau situs penyewaan kamar lainnya. Lumayan pasif income πŸ˜€ Cuman jeleknya, akan ada masanya yang namanya bubble property, artinya harga rumah akan menjadi terjun bebas. Sesuai prinsip hukum ekonomi, ada supply (rumah) ada demand (penduduk). Kalo supply (rumah) kebanyakan sementara peminat (penduduk yang membeli) sedikit, harga rumah akan diturunkan DEMI laku, demi adanya perputaran uang yang aktif disana. Tadinya gue udah nunggu-nungguin kapaaann bubble properti biar gue nggak susah ngumpulin DP haha, eh Jokowi ngeluarin berita rumah murah di daerah suburb. Sampe sekarang masih gue pantau hahaha. Kekurangan kedua adalah karena sekali jual atau beli nilainya langsung besar (di luar urusan perkreditan) maka lakunya lama. Misalnya lo pasang iklan buat sewa atau jual, pihak pembeli atau penyewa itu bisa ketemunya setelah 3-4 bulan, bahkan lebih. Trus udah ketemu pun belum tentu langsung cocok. Ada yang suka model rumah lo tapi gak sesuai budget dia, dia punya budget tapi gak suka model rumah lo, atau bahkan aturan dari lo sendiri yang tidak bisa dia penuhi. Macem-macem. Makanya gue bilang urusan properti ini medium risk, medium return. Kalo rumah tersewa/terjual syukur alhamdulillah, kalo belum tersewa/terjual bisa ditempatin sementara waktu dulu sambil furnish ini-itu.

Baca juga: Bisnis Kos-kosan? Hmm..

Nah~ Apartment ini yang ribet karena melibatkan pihak manajemen. Tadinya gue semangat mau kredit apartment (langsung beli aja lah gausah nyewa, sayang waktunya), eh mood sempet drop karena beritanya si Muhadkly Acho wkaka. Ya gak semua apartment, kita jadi musti jeli aja sama isi management-nya dan aturan-aturan yang berlaku serta biaya-biaya yang dibebankan ke kita. Kebetulan pas gue scroll timeline twitter, ada yang ngasih tau apartment mana aja yang manajemen-nya bagus. Paling penting urusan sertifikat ya, karena sertifikat rumah yang selembar itu fungsinya banyak haha. Yang kedua, kita gabisa seenaknya men-‘dekor- rumah sesuai yang kita mau karena yah.. Apartment gitu loh modelnya gitu-gitu aja haha. Tapi bisa aja ini berlaku untuk yang sewa, yang beli apartment kan udah jadi hak milik sepenuhnya πŸ™‚ CMIIW, yang tau bisa silakan komen di bawah yaaa.

c. Indeks saham dan forex/valas. Sifat: High risk, high return. Tenggat waktu: short term (1-3 tahun), middle term (5-10 tahun). Nah, ini yang sesuai judul! Xixixi. Forex = foreign exchange, valas = valuta asing. Sama aja, yaitu tentang currency alias nilai mata uang. Kalo indeks saham itu masuknya udah ke pasar modal. Sebenernya agak ribet menjelaskan hal ini tapi sengaja gue jadiin satu karena khusus indeks saham dan forex/valas, lo harus aktif! Dan rajin mengikuti berita-berita internasional dan mengikuti perkembangan pasar.

Untuk forex/valas, secara tradisional.. Lo tinggal tukerin Rupiah ke mata uang yang lo mau (umumnya SGD, AUD, CAD, EUR, GBP, HKD) trus simpen sampai nanti value-nya meningkat. Tapi kalo yang versi modern, sama dengan indeks saham, lo musti masuk aplikasi yang sudah disiapkan broker tempat lu mendaftar. Iya, pake broker. Trus sambil memantau pasar, lo bisa menentukan apakah lo mau transaksi di hari itu atau tidak, transaksinya jual (sell) atau beli (buy), dan berapa banyak yang mau ditransaksikan. Transaksi ini, lucunya, mirip waktu kantoran hehe. Gue lupa buka jam 08:00 atau jam 09:00 gitu trus ada waktu breaknya juga! πŸ˜† Jam 12:00 – 13:00, ditutup jam 16:00. Kalo lo transaksi sebelum jam 12:00, hasil transaksi lo akan masuk setelah jam 12:00. Sementara itu kalo lo transaksi di atas jam 12:00 hasil transaksi akan masuk keesokan harinya. Sampe sini udah paham, blom?

Untuk pasar modal, istilah kerennya kan saham ya, bahasa Inggrisnya: trading. Waktu gue ikut Seminar Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia Surabaya bulan Agustus 2015 (wow it’s been 2 years already!) gue pernah dikasih liat mesin (?) atau aplikasi yang mereka gunakan. Menurut gue cara pakainya gak ribet, bahkan di Seminar itu ada juga dedek-dedek SMA yang ikutan dan ku mendadak merasa tua :))) Kemana aja selama ini hahah. Cuman bedanya dengan forex/valas, di pasar modal ini lo gak akan ngeliat nilai mata uang, tapi kode perusahaan-perusahaan lokal yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beserta nilai saham perusahaan tersebut. Semakin bagus perusahaannya, semakin tinggi nilai sahamnya; bahkan ada beberapa perusahaan yang disebut sebagai blue chip alias, MAHAL bener bok :))) Contohnya perusahaan rokok, waktu tahun 1970-an harga selembar sahamnya cuma Rp40,- sekarang naik banget jadi Rp40.000,-! Dan aturan main di pasar modal ini minimal lo musti beli 1 lot = 100 lembar. Lu kaliin aja berapa totalnya :))) Selain perusahaan rokok, perusahaan BUMN pasti masuk. Gua sempet ngecek kantornya si Uda Padang (Telkom Indonesia) dan adeknya (BRI), nilainya fantastis hahaha. Bank-bank BUMN macam BNI, Mandiri, BCA juga nilainya gak kalah fantastis.

Nah! Kekurangannya berinvestasi disini apa? Satu, lo musti sabar. Gabisa yang namanya emosi sesaat untuk melakukan transaksi di hari itu juga, bakal rugi! Musti menetralkan perasaan disini, gaboleh terlalu senang gaboleh terlalu sedih, biasa aja. Kedua, kadang ada broker nakal. Jadi nyokap cerita dulu sebenernya beliau hampir beli salah satu perusahaan yang nilainya gede. Nyokap mau beli karena menurut pandangan beliau waktu itu, nih perusahaan lagi mekar-mekarnya trus kalo diendap misalnya setahun aja pasti return-nya juga fantastis. Cumaaann, karena broker juga bisa memiliki akses ke akun kita which means bisa melihat transaksi apa yang mau kita lakukan, broker nakal ini sengaja matiin listrik biar nyokap gue gabisa transaksi. Nyokap kesel kok bisa-bisanya mati lampu pas lagi mau transaksi oke, pas lampu udah nyala EEEHH terjun bebas nilai saham perusahaan. Yang tadinya grafik nyokap gue hijau berubah jadi merah which means rugi. Ruginya seharga rumah yang bokap gua bangun di Ciledug sana. Nyesek banget, ya!

Oh iya kekurangan lainnya adalah disini lo gabisa pake uang fix. Lo harus merelakan uang lo ‘hilang’ (merugi) just in case harga saham lagi anjlok (biasanya peristiwa politik). Makanya di BEI Surabaya itu gue diajarin, kalo mau berinvestasi di forex/valas atau pasar modal lo musti ada kelebihan uang alias ‘uang nganggur’ alias lo-bingung-duitnya mau diapain biar gak sedih-sedih banget kalo terpaksa merugi.

d. Deposito, Obligasi, Reksadana. Sifat: Medum risk, medium return. Tenggat waktu: mid term 5-10 tahun (semuanya). Kalo yang ini sengaja gue satuin karena pihak ketiganya adalah bank, jadi aturan main yang berlaku adalah berdasarkan bank apa yang lo percaya untuk mengembangbiakkan uang lo. Yang ini jujur aja gue belum tau banyak, tapi menurut temen gue, untuk dana pendidikan, deposito oke lah. Gue nggak ngerti itung-itungannya tapi dia bilang di bank yang temen gua pake, return 5% per tahun selama 4 tahun (sampe anaknya masuk TK). diitung aja sesuai jumlah yang disetor setiap bulan, dan kembali lagi aturan main. Ada potongan-potongan wajib yang harus lo tanggung misalnya service (jasa konsultasi?), administrasi, dll.

Gue masih penasaran sama obligasi alias Surat Utang Negara (SUN). Alasannya cetek, negara ngutang ke gue gitu lhooo.. Wkwkwk. Doakan aja semoga terwujud ya karena SUN ini enaknya liat-liat dulu presidennya siapa, jajaran menterinya siapa, jangan sampai ku merugi karena proyek besar tak kunjung selesai macam Hambalang~ πŸ˜›

3. Tentukan budget dan strategiΒ 

Idealnya, dana yang sebaiknya lo sisihkan dari pendapatan lo sekarang adalah 10% – 30%. Maksimal 30% karena walopun niat dan tujuan kita berinvestasi mulia *tsah* jangan sampe mengganggu pos-pos lain. Yaaa kita kan 30 hari ke depan masih ada pengeluaran rutin macam makan, kebutuhan rumah, transport, beramal (ini penting!) dan sebagainya.

Strategi digunakan ketika lo berencana berinvestasi di lebih dari satu tempat. Bisa kalo mau berinvestasi di satu tempat dulu (seperti yang gue lakukan sekarang), cuman sayangnya itu belum ideal. Lo musti sebar di beberapa jenis investasi. Misalnya, lo menentukan mau berinvestasi di properti, forex, dan obligasi. Yang manakah yang lo mau beli duluan? Se-urgent apakah kebutuhan gue saat ini? Trus alokasi persentasenya bagaimana? Kira-kira prediksi 1-2 tahun ke depan jenis investasi mana yang paling oke diantara ketiganya?

Kalo strategi gue (mestakung yaaa.. ditulis dulu amin!), cukup 1-2 tahun aja di tabungan emas sebelum akhirnya pindah ke obligasi (maunya yawla penasaran banget gue). Atau kalo gak dapet obligasi, minimal forex, trus keuntungan dari forex gue puter lagi ke trading (MAUNYA Indeks Hongkong), sampai nilai yang paling besar adalah rumah atau tanah. Kalo masih ada sisa, jadi modal usaha. Gitchuuu..

Yak kira-kira segitu dulu informasi yang bisa gue bagikan, semoga berguna yaaa πŸ™‚ πŸ˜€ Kalo ada yang salah dari postingan gue please tolong kasihtau di kolom komen biar langsung gue benerin dan gak kasih informasi sesat ke pembaca lainnya haha. Until next post! ❀

*This post is dedicated to Ci Catharine, Kak Permadhi Yoga dan kak Indra Lasmawan yang udah nanya-nanya ke gue hehehe*

11 thoughts on “High Risk, High Return

    1. Temenku yang investasinya di perhiasan dibagi 2 atau 3 lokasi kak, jadi 1 paket dibawa-bawa, yang lain ditinggal di rumah. Trus kalo investasi di emas batangan harusnya ssanggup juga buat beli brankas ya πŸ˜› Hehehe. Karena aku invest-nya di Tabungan Emas, sistemnya kya di bank pake buku tabungan.. Bedanya, kita setor uang nanti di-convert ke size emasnya berapa gr.

      Haha iya ada yang kya begitu, kyanya salah satu blogger pernah cerita.. Jadi dia udah lama gak isi rekeningnya, sekitar 1 tahun. Sisa uangnya kepotong tiap bulan buat bayar admin. Pas tutup akun nilainya jadi minus berapaaa gitu trus dia harus bayar. Lol πŸ˜†

      1. Oohh gitu toh cara invest. perhiasan. Wah asyik juga ya setor uang lalu diconvert ke emas.
        Aku belum pernah dengar deh saldo minus nasabah harus bayar πŸ˜€ . Aku dulu punya rek. ya krn sdh ga ada isinya kubiarin aja, krn kuanggap ketutup otomatis sih klo dibawah saldo minimum.

    1. Iya Oom walopun modal awal gede tapi sebenernya uangnya gak ilang kan, cuma berubah bentuk jadi properti. Trus tiap tahun harga naik, jadi walopun modal awal gede tahun depan uda bisa ambil profit. Uhuy banget πŸ˜€

  1. sebenernya invest properti tuh paling asik, karena tiap tahun naik… tapi ya itu nyiapin duitnya juga asik hahahaha… sekarang aku investasi di reksadana, kayak yang kamu bilang… medium risk, medium return…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s