Hitozukuri x Monozukuri

Hari ini merupakan hari terakhir untuk kelas Monozukuri karena besok-besok bakal libur lebaran dua minggu ditambah minggu tenang satu minggu sebelum mengadakan UAS. Kelas Monozukuri merupakan salah satu mata kuliah yang paaalingg gue suka karena dosennya asik dan mata kuliahnya relevan banget dengan dunia kerja, pada umumnya, dan dunia industri dan perusahaan Jepang pada khususnya.

Sebelum gue mulai cerita, mungkin ada baiknya gua kenalin dulu apa sih Monozukuri? Apa sih Hitozukuri?

Ketika gua mau masuk kampus yang sekarang kan gua liat silabusnya, ada satu mata kuliah namanya Monozukuri. Gua tanya ke bagian humas pada waktu itu, menurut beliau, mono = merakit, zukuri = perangkat, jadi kita kayak merakit sesuatu gitu. Semangat dong eikeee kirain bisa bikin robot-robotan gitu HAHAHA karena waktu di Bali, ada salah satu kegiatan tambahan dari himpunan di kampus namanya Robotika, yaitu kegiatan merakit robot sesuai fungsi yang dimau. Kalo kalian pernah nonton film iRobot pasti tau ada robot yang bisa bantu bersih-bersih rumah, kan πŸ˜‰

Pada kenyataannya, kelas Monozukuri sempet mundur sebentar karena dosen pengganti waktu itu belum ada. Well, semua dosen tetap disana udah penuh jadwal ngajarnya, jadinya mau gak mau ambil dosen dari luar, khusus membantu kelas Monozukuri ini. By the way, gak enak loh dianggurin karena belom ada dosen, padahal kitanya semangat belajar πŸ˜†

Singkat cerita dapet dosennya dari salah satu perusahaan Jepang terbesar di Indonesia. Hayo apakah ituuu? *bukan giveaway* πŸ˜† Pertemuan pertama dosennya langsung asik, dari gaya mengajarnya juga langsung ‘klik’ sama gue karena artikulasinya jelas dan penjelasannya detail.

Salah satu bagian yang paling gua inget pas awal-awal kelasnya, pada intinya sebelum ada Monozukuri pasti ada Hitozukuri. Monozukuri = menciptakan alat, hitozukuri = membangun manusia. Jadi pada dasarnya Hitozukuri ini membangun mental orang-orang yang akan menciptakan alat / barang / perangkatΒ (monozukuri) dan pengerjaannya pun dengan hati, gak setengah-setengah. Metode pembelajaran ini berasal dari Jepang dan diterapkan hampir di seluruh kegiatan akademik dan pekerjaan di sana. Selain itu, hitozukuri juga mementingkan detail, kedisiplinan, dan kerapihan, sehingga semuanya serba terstruktur dan teratur.

SumberΒ 

Selama masuk kelas Monozukuri iniΒ (gua usahakan gak pernah absen kecuali kalo lagi urgent banget – langit mo runtuh, misalnya πŸ˜† ), gua berusaha mengingat kira-kira apa yang ortu gue tanamkan selama ini. Sebenernya kalo dari kecil kita dibiasakan hal-hal baik, tanpa perlu ada kelas Monozukuri di kampus pasti akan terbentuk dengan sendirinya. Contohnya dulu karena jarak rumah ke sekolah gua jauh, mau gak mau harus berangkat pagian biar gak telat, dan ortu gue juga gak telat ngantor. Pagi-pagi bangun jam 04:00, berangkat ke sekolah paling telat jam 04:45 atau 05:00, nyampe sekolah jam 05:45 atau 06:00, trus nunggu bel masuk jam 06:45 renungan pagi. Gitu aja terus selama dua belas tahun. YAAASS DUA BELAS TAHUN! Dari SD sampe SMA. Masuk kuliah wassalam lah sudah, jarak kost ke kampus itu deket banget bisa jalan kaki, anggap enteng banget~ Masuk kuliah jam berapa gua baru prepare sejam sebelumnya,. Jangan ditiru ya, waktu itu parah deh pokoknya. Nyampe Jakarta aja hidup gua lumayan teratur lagi karena harus sambil beres-beres rumah dan sempet kerja juga, jadi otak gue seperti sudah ter-“program” hari ini ngerjain apa jam berapa dan berapa lama. Gak selalu mulus perjalanan mendisiplinkan diri ini tapi (sepertinya) sudah jauh lebih baik.

Satu hal lainnya yang gua pelajari dan sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari adalah JIT, alias Just In Time, alias mempersiapkan segala sesuatunya di depan. Tujuannya untuk mempercepat pekerjaan dan “jaga-jaga” just in case terjadi sesuatu. Tau peribahasa ‘sedia payung sebelum hujan,’ kan? Nah, mirip-mirip gitu.

Habis itu apa lagi, ya.. Oh iya, deadline. Masih sejalan dengan JIT tadi, deadline juga membantu hitozukuri untuk tidak menunda-nunda suatu tugas atau pekerjaan untuk diselesaikan. Gunanya adalah biar ada persiapan SEANDAINYA ada perubahan. Gua kasih contoh ya, kadang ada dosen yang suka berubah-ubah mood-nya, tergantung keadaan hari itu. Kalo dia lagi hepi, deadline pengumpulan tugasnya bisa diundur lamaaa banget tapi kalo udah ngambek, deadline bisa dimajuin mendadak. Sebenernya yang kayak gini dosennya reseh sih, cuma ya itu, seandainya ada kendala di lapangan (perubahan jadwal), kita udah siap duluan.

Habis itu ada lagi yang namanya Bar Chart, gua juga demen ngerjain ginian tapi ya itu, kalo gak sesuai deadlineΒ trus laporan berantakan bisa uring-uringan sendiri euy πŸ˜†

Yak, sekian dulu postingan gue kali ini, semoga membantu πŸ™‚ Saran gue, gak apa-apa kita belajar sesuatu dari negara lain toh ini berguna untuk jangka panjang, baliknya untuk kebaikan kita-kita juga. Just so you know, walopun pendiri kampus gue adalah mahasiswa-mahasiswa yang lulusan salah satu kampus di Jepang, pelajar dan pekerja Jepang merupakan salah satu SDM di dunia yang tingkat bunuh dirinya tinggi – karena stress dan kurang liburan – saking professional dan dedicated-nya. Jadi ya bijak-bijaknya kita dalam menyerap informasi, okay πŸ˜‰

Until next time!

Advertisements

6 thoughts on “Hitozukuri x Monozukuri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s