Gara-gara Disholatin (dan seketika hampir menyesal)

Hihihihi bisa gitu ya 😀

Urusan kampus nih. Jadi sekitar bulan September 2016 gue ditawarin sama salah satu dosen di kampus gue yang baru untuk ikut PKM alias Program Kreativitas Mahasiswa. Program ini merupakan salah satu program dari Kemenristek Dikti sebagai wadah mahasiswa untuk menyalurkan idenya di berbagai bidang. Gue gak hapal pembagian-pembagiannya tapi gue sempet mau bikin di bidang wirausaha, gak jadi dan akhirnya belok ke PKM-M (mitra) yang mewajibkan kita untuk bekerja sama dengan suatu instansi yang berkaitan dengan masyarakat.

Gak tau kenapa ide yang langsung muncul di kepala gue tuh tentang museum. Gamau tau pokoknya museum aja. Tahapan pertama itu harus mempresentasikan rencana kerja atau proposal mahasiswa ke salah satu staff Kemenristek Dikti. Disertai revisi-revisiannya ya bok baik secara teknis maupun non-teknis. Yang rajin dateng ke tempat gue namanya pak Mudjiarto.

Secara nggak sengaja gue terinspirasi dari salah satu museum yang ada di Kuala Lumpur, lupa pula namanya wkwk. Cumaaann yang gue inget banget adalah, segala informasi di dalam museum ditulis sejelas-jelasnya. Secara tulisan, itu tembok penuh ya bok sama penjelasan-penjelasan hahaha menarik pula warna-warni, font-nya juga cucok. Secara lisan, nah mereka ada built-in speaker yang kalo kita pasang headphone-nya ke telinga, langsung kedengeran penjelasannya pake latar belakang suara yang oke banget. Misalnya kalo lagi menggambarkan suasana perang, ya ada suara tembak-tembakannya, ada suara tank bergerak, teriakan-teriakan suara tentara, mantep deh jadi lebih hidup gitu. Gue yang dengerin jadi terbawa suasana, lebih penasaran, dan jadi lebih fokus aja dengerinnya!

Konsep itu lah yang gue bawa ke museum di Indonesia melalui program ini. Ya lagi berlangsung, sih.. Tahap kedua tim gue submit proposalnya bulan November 2016, ke website Dikti. Ada yang lucu disini. Waktu gue kelar submit proposalnya kan ada follow-up lagi siapa-siapa aja yang udah, yang belom, trus kendalanya dimana. Dibagi per warna gitu, kelompok gue warna ijo which means udah kelar. Ada juga yang warna merah which means dari awal gak nunjukkin progress sama sekali, dianggap cancel. Ada juga yang warna kuning, disini gue gemes kenapa gak duluan submit sih 😆 Ngapain nunda-nunda toh gada salahnya untuk bertindak lebih cepat lebih baik, kan. Apalagi pas submit reramean gitu server-nya Kemenristek sempet down. Gara-gara kedua hal ini lah maka tanggal pengumpulan proposal diperpanjang.

Long story short, bulan Januari 2017 nunggu kabar, bulan Februari nunggu kabar, gak ada-ada juga. Awal Maret gue cek website-nya Kemenristek gada juga. Yaudah lah gue pasrah aja siapa tau emang gak lolos. Gamau berharap lebih.

Hingga pada suatu malam yang indah.. Gue udah siap-siap mau tidur.

Dosen pembimbing proposal gue nge-WA, kayak gini kira-kira percakapannya:

unsada pkm3
Gak nyangka banget 

Dapet kabar kayak gitu, apalagi nambahin kalo dari 25 proposal yang masuk, cuma kelompok kami yang keterima, langsung gue buka lah itu website cari-cari infonya akhirnya dapet PDF-nya. Ini diaaaa *jeng jeng*

Hayo yang mana hayooo.. Hahaha.

Nah trus pas gue udah dapet infonya, gue kabarin juga ke anggota team yang lain, kan. Sebenernya gue seneng + rada panik juga, seneng ternyata bisa ya bok kita nembus; panik karena mikir gimana ngerjainnya. Trus lagi asik-asik ngobrol kayak gitu, temen gue ngomong,

“Gak percuma ya Ge gua sholat-in hampir tiap hari, akhirnya lolos…”

Gua gak percaya doi ngomong gitu ampe gue tanya berkali-kali untuk meyakinkan, “Ah serius? Doanya subuh atau malem? Emang lu ngomongnya gimana” wkwkwk ampe segitunya. Tapi yaudah lah jalanin aja.. Pas balik liat dananya dan idenya, gue optimis ini bisa jadi proyek berkesinambungan jangka panjang, hehe.

Sekarang proyeknya lagi kami kerjain, yang pasti team kami udah bagi tugas buat ngerjain bagiannya masing-masing. Waktu bikin bar chart-nya ternyata bisa stacking time & progress jadinya gak ngabisin banyak waktu. Deadline 2 bulan lagiii.

Oh iya one thing that our team should note, berhubung proposal kami adalah ide pertama yang diterima atas nama pihak kampus, beban moralnya juga berat euy. Kalo gagal, kampus kami di-blacklist gaboleh ikut PKM lagi ke depannya, entah sampai berapa lama. Ngeri juga ye.

Optimis, optimis, optimis. Ora et Labora. Semoga gada halangan-halangan minor gak penting yang bisa menghambat kemajuan proyek ini. Gak guna bok haha *fingers crossed*

Until next time! 😉

Advertisements

14 thoughts on “Gara-gara Disholatin (dan seketika hampir menyesal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s