Personal Branding (2)

Sebenernya hari ini gua lagi pengen marah tapi gak guna juga. Lagi kesel sama beberapa temen gua yang ngetawain karena gua mau ikut workshop romansa ala ko Lex de Praxis dari HitmanSystem itu. Gua tau sih salahnya gua adalah, gua tidak bisa mengkomunikasikan dengan tepat seperti apa workshop romansa itu, sehingga mereka pun anggap remeh omongan gua dan pelatihan tersebut.

Buat temen-temen perempuan yang pengen shine brighter like a diamond kayak gue and feeling hungry for being a better person, here check it out:

ll

Bandung dan Surabaya: 15 Nov 2015; Jakarta: 06 Des 2015. Tempat: TBA.

——–

Sekalian ngelanjutin postingan gue yang tentang self-imaging ini karena ada beberapa hal yang kepikiran. Di kantor, kalo gue lagi handle tamu, tamunya itu kan pilih-pilih beberapa raw materials before we combine them all together. Nah tamunya itu suka nanya, kalo minimal raw materials-nya 2 selection for every layer, maksimalnya berapa? Gue selalu suggest to have them less than 5. Kenapa begitu?

Gue jelasin dengan akal pikiran gue sendiri aja sih alias ga diajarin bos gue, bahwa parfum yang lo bikin itu kan materialnya sesuai karakter dominanΒ si tamuΒ (sebelumnya kita kasih cue cards dulu tentang their dominan characters). If you have it more than 5 raw materials for every layers, ya wanginya jadi gak jelas dong.. Bahkan bisa aja jadi parfumΒ mainstream yang being floored-out in the market sehingga tidak menonjolkan karakter lu. Itu satu hal.

Hal lainnya adalah elu bikin formulanya sendiri, emangnya ga pusing nentuin angkanya? πŸ˜† Ya emang sih tetep ada panduan formula, ada panduan aja kalian bingung apalagi gak ada! πŸ˜†

Masalah personal branding ini menurut gue agak crucial ya karena itu semacam cover seperti apa yang mau lu tunjukkan ke orang lain, apalagi untuk orang yang baru dikenal. Beda dengan kepribadian yang memang soul-nya dibentuk secara tidak disadari. Ada lho temen baru gue yang melihat gue sebagai seorang perempuan yang suka minum, pulang malam, dan hepi terus. Ada juga yang melihat gue sebagai seseorang yang demen jalan-jalan dan ngabisin uang. Ada juga yang melihat gue sebagai ‘PSK gagal’ (siyal! πŸ˜† ). Padahal kenyataannya ga tiap weekend juga gua clubbing dan minum, ga tiap bulan juga gue jalan-jalan keluar pulau, ebuset bisa bangkrut. Disini masih banyak tagihan πŸ˜† Dan yaaahh.. Gue menganggap seks itu sebagai sesuatu hal yang indah kalo dipelajari dengan benar dan menjadi celaka kalau buta.

Kenapa mereka bisa menganggap gue jadi seperti itu? Karena kebetulan juga, sih. Kebetulan pas si A ngehubungin gue eh guenya lagi di club, atau acara kantor minum cocktail. Pas banget si B nge-chatΒ eh guenya lagi di Jakarta. Pas banget si C butuh bahan bacaan eh gue kirimin artikel gue yang tentang seks, sekalian promosi πŸ˜† Nah karena hal tersebut yang mereka lihat pertama kali, my cover would be their first impression at that time. Padahal seorang Grace (dan makhluk lainnya) ini kompleks, ga melulu tentang hepi-hepi, ga melulu tentang traveling, ga melulu tentang romansa. I just make everything the best out of me.

Eh udah kelar nulis malah marahnya ilang πŸ˜€

Advertisements

15 thoughts on “Personal Branding (2)

  1. Nggak mungkin juga sih bisa menyenangkan semua orang Ge. Kalaupun biasa-biasa aja ntar dicap “nggak gaul”, “kuper”, “kayak katak dalam tempurung”, dll, haha. Yang penting mah kitanya happy aja πŸ˜€ .

  2. Ih ngga papaaaaa, santai aja Grace… aku juga gitu, dianggap aku smoker, suka minum dan suka clubbing.. padahal jauuuuh banget dari itu.. entah harus merasa gimana.. anggap aja dianggap anak gaul padahal maaah hihiihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s