SIAP MENTAL

Pertama-tama mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan untuk teman-teman beragama Hindu di Bali. ๐Ÿ™‚

Beberapa waktu lalu gua nginep di tempat Jojo cewek (temen SMP gua) trus pagi-paginya nonton TV.Tayangan infotainment menampilkan berita salah satu personil girlband Blink kehilangan bokapnya (baca: meninggal). Lagi asik-asik nonton eh si Jojo tanya,

“Ge kalo lo pilih salah satu dari ortu lo buat ga meninggal duluan, lo pilih siapa?”
“Gada,” jawab gue.

Kesannya gua anak durhaka ya gak sayang ortu :p Hehehe. Gua sih berpikir realistis aja siapapun manusia pasti mati, so mau berusaha sesulit apapun untuk umur panjang ya itu ga akan bertahan lama. Usia itu kan cuma angka — selama hidup, apakah lo sudah bahagia? Kontribusi apa yang sudah lo berikan bagi dunia ini? Apakah lo sudah bermanfaat, setidaknya tidak menyusahkan, bagi orang lain?

Ada nih sepupu gue dari nyokap, waktu bokapnya meninggal karena penyakit dia ga nangis sama sekali. Kebetulan doi bersaudara tiga dan semuanya perempuan. Waktu ada acara penghiburan di rumahnya, doi bertindak sebagai ‘laki-laki’ yang berpikir realistis, jagain rumahnya jangan sampe ada yang ambil kesempatan dalam kesempitan dalam kedukaannya — ngutil barang di rumahnya, mungkin? Kita sih ga mau berpikiran buruk ya toh suasana berduka itu sendiri sudah menyakitkan hati tapi akan lebih baik dan bijaksana kalau kita berhati-hati.

Perlu diketahui daripada orang tersebut hidup tapi penuh kesakitan lebih baik di-‘matikan’ saja (bahasa gua kok kasar amat ya :p ) maksudnya, daripada orang tersebut mengalami sakit yang begitu lama sepanjang masa hidupnya dibandingkan dirinya menjalani kehidupan yang sehat jiwa-raga. Perlu diketahui Oom gua itu meninggal setelah cuci darah selama… 14 tahun? 15 tahun? Ya gitu deh lamanya. Tentu saja di tahun-tahun pertamanya dia masih bisa jalan, beraktifitas, tapi semakin lama semakin rapuh. Kasian juga ngeliatnya.

Kita juga perlu mikirin keluarga yang ditinggalkan. Biaya pengobatan dan administrasi rumah sakit itu ga murah apalagi keluarga tersebut kan juga perlu menjalankan kehidupannya setelah ditinggalkan. Masih banyak yang harus diurus: tagihan yang datang setiap bulan, pekerjaan, kesehatan pribadi, kehidupan spiritualnya, kehidupan sosialnya, dll.

Kalo dari penjelasan diatas, gua sendiri sih belum tentu setuju sama Euthanasia itu ya. Menurut gua itu opsi terakhir kalo usaha-usaha lain sudah dilakukan namun tetap tidak memberikan hasil positif untuk sembuh.

Makanya please banget jaga kesehatan ya teman-teman. Pikirin kalo kalian sakit yang susah tuh orang-orang di sekitar kalian juga. Boleh makan enak sekali-kali tapi diimbangi dengan olahraga + sayur + buah yaaaa *menatap nanar struk belanja nasi merah*

Advertisements

15 thoughts on “SIAP MENTAL

  1. I hardly cried when my father passed away too (almost 13 years ago). Meskipun bokap meninggalnya bukan karena sakit berkepanjangan alias mendadak banget kok ga bangun2 dari tidur, gue at the moment ga merasa sedih-sedih banget. Sampe semua temen yang dateng ngelayat bingung. Gue merasa seakan akan bokap cuma pergi somewhere familiar, dan toh nantinya akan balik lagi ke kita, ke rumahnya, ke keluarganya. Beberapa minggu setelahnya gue nangis kejer banget karena sadar bokap ga akan balik lagi selamanya *telat* hehehe. Tapi sampe sekarang pun gue dan keluarga merasa bahwa enakan kayak bokap gue gitu, meninggal cepet lalu bahagia di surga ๐Ÿ™‚

    1. Karena lo pun terakhir ketemu beliau pas tidur kan Ci~ mungkin lo ngerasanya tidurnya lebih panjang aja. Waktu itu belum ngerti diagnosa medis pula ya. Dokter bilangnya apa, Ci?

  2. Setujuuu!!! Kesehatan itu tanggung-jawab pribadi ya. Mungkin kita “nggak menyusahkan” secara materi tetapi kan tetap aja orang di sekitar kita jadi khawatir, dll.

  3. Dilema kalo ada org yg sakit bertahun tahun. Antara kasian dianya menderita tp pasti juga gak tega kalo harus ‘dimatikan’…

    Ya intinya emang kesehatan itu yg plg penting ya…

  4. jadi ingat pas alm ayah dulu. Harus masuk ICU, tapi menurut dokter juga gak akan menjamin, dengan peluang 10%an. Sepakat dengan kakak-kakak untuk gak usah masuk ICU, tapi “dipertanyakan” oleh saudara-saudara ayah. Kenapa pada tega gak masukin ICU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s